Detail Articles

Siswa SMPN Madiun Dipaksa Lakukan Tes Keperawan Oleh Guru BK

Siswa SMPN Madiun Dipaksa Lakukan Tes Keperawan Oleh Guru BK

@dakita. Madiun- Seorang Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMPN 10 Kota Madiun, Jawa Timur, memaksa muridnya untuk mlelakukan tes keperawan. Akibatnya anaknya mengalami trauman dan malu untuk masuk, dan orangtuanya melaporkan persoalan tersebut kepihak yang berwajib karena merasa terhina.


Tidak berhenti disitu saja Guru BK , Sri Wahyu Ningsih  juga memaksa memaksa muridnya, AH, 16, untuk membuat surat pernyataan jika dirinya sudah tidak perawan. Akibatnya keluarga AH, merasa terhina dan membawa persoalan ini kepihak pihak Polisi.  

Putrii sulung pasangan suami istri (Pasutri) Hari Sutriso-Sri Wahyuni, warga Jalan Sukoyono Kota Madiun, mengaku hal itu terjadi pada tanggal 23 Mei lalu.

"Saya tidak pernah melakukan hal-hal yang melampaui batas. Tapi kenapa mendapat informasi sepihak dari teman saya, Bu Wahyu percaya dan memaksa saya untuk membuat surat pernyataan jika saya sudah tidak perawan. Memang saya akui, saya sudah punya pacar. Tapi saya tidak pernah melakukan hal-hal yang dituduhkan",kata AH, siswa kelas 8 ini  kepada @dakita,didampingi oleh orang tuanya, dan tantenya, Kasmini, Jumat (1/6)

Tak hanya memaksa AH,16, untuk membuat surat pernyataan tidak perawan, guru BK itu juga memanggil orang tua murid gadis hitam manis ini datang ke sekolah. Dengan diwakili oleh tantenya, Kasmini, keluarga AH datang ke sekolah. Sesampainya di sekolah, pihak BK minta kepada keluarga AH untuk memeriksakan anaknya ke dokter.

Kamis (31/5) kemarin, sekitar pukul 19.00 Wib, dengan diantar tantenya, siswi SMP itu mendatangi dokter spesialis kandungan, dr.Santi. Setelah diperiksa dengan alat DiaSpot hCg dengan sensitivitas 25mIU/ml, AH dinyatakan tidak hamil. Namun Dr.Santi tidak berani mengeluarkan surat visum et repertum tentang masih gadis atau tidaknya, murid kelas 8 itu, karena itu bukan wewenangnya.

Dengan berbekal surat pengantar dari dr.Santi, Jumat (1/06), ibu AH, Sri Wahyuni, dengan ditemani oleh tantenya, Kasmini, datang ke RSUP DR.Sudono Madiun, untuk meminta visum. Tapi oleh pihak rumah sakit ditolak dengan alasan permintaan visum harus ada surat pengantar dari kepolisian.

Karena ingin mengetahui kebenaran tentang putrinya, ibu AH langsung mendatangi Polsek Taman untuk meminta surat pengantar untuk melakukan visum. Namun polisi menolak dengan alasan, permintaan pengantar visum hanya bisa diberikan jika ada kejadian tindak pidana.

Untuk menyelesaikan masalah ini, dengan ditemani dua orang anggota Polsek Taman, orang tua Asrina mendatangi sekolah. Pihak polisi menjelaskan kepada sekolah, jika masalah ini dimintakan visum, maka perkaranya akan melebar.

Sementara itu, ayah AH, Sutrisno, mengatakan tidak terima putri sulungnya diperlakukan seperti itu. Selain putrinya malu untuk masuk sekolah persoalan ini sudah menyangkut nama baik dan harga diri AH dan keluarganya.

"Kalau misalnya membolos kemudian disuruh membuat surat pernyataan agar tidak mengulang, tidak masalah. Tapi anak saya dipaksa oleh gurunya agar membuat surat pernyataan tidak perawan. Memang saya keluarga miskin, tapi masih punya harga diri", terang Hari Sutrisno, kepada wartawan dirumahnya, Jumat (1/6).

Terpisah, Sri Wahyu Ningsih guru BK SMPN 10 kota Madiun berdalih bahwa pihaknya melakukan hal itu untuk mengantisipasi adanya siswa hamil ditempatnya "Ada laporan gaya pacaran AH berlebihan, juga bedasarkan pengakuan tertulis AH yang mengatakan dia bahwa dirinya pernah melakukan hubungan intim empat kali," ujarnya. Ditambahkan "Jika benar-benar terjadi kehamilan sekolah juga yang malu," tegasnya.(wiet)


Keterangan Foto : Kasmini, tante AH, saat menunjukan hasil tes kehamilan.

kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF

Berita "Pendidikan Kita" Lainnya