Detail Articles

PT. Sorini Berebut Onggok Dengan Warga Tajug

PT. Sorini Berebut Onggok Dengan Warga Tajug

@dakita Ponorogo - Ratusan Warga Desa Tajug, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo bersitegang dengan PT. Sorini Agro Asian yang memproduksi produk berbahan dasar Singkong. Disinyalir  ada kesalahan komunikasi (miskomunikasi)  antara pihak perusahaan dengan warga setempat, terkait pengambilan onggok (ampas ketela - red) oleh warga dari pabrik.

Kades Desa Tajuk, Agus Hari Purwanto, saat dikonfirmasi terkait dengan permasalahan ini menuturkan, bahwa awal kemarahan warga yang terjadi pada hari Jum’at,(21/9) siang. Persoalan itu dipicu terlambatnya pintu tempat pengambilan onggok yang tidak lekas dibuka, padahal antrian warga yang ingin mengambil onggok sudah banyak.


”Biasanya jam 07.00 Wib. sudah dibuka, hari ini kok sampai siang belum juga dibuka, akhirnya warga yang mengantri tidak sabar kemudian mengambil onggok dari di dalam pabrik,” katanya.

Menurut warga setempat, ketegangan antara PT. Sorini dengan masyarakat sudah berlangsung lama. Selama ini pihak PT. Sorini bertindak curang pada masyarakat. " Dulu onggok yang dijual pada masyarakat adalah onggok kering, sekarang berubah menjadi onggok basah. Masih menurut warga, dulu janjinya PT Sorini mau membantu masyarakat dengan memberikan onggok untuk dimanfaatkan masyarakat. "Kita ini sudah terima bau limbah dan air sungai yang menjadi keruh akibat kegiatan pabrik dengan cara manfaatkan limbah yang berupa onggok, Sekarang kok masih di persulit, "ungkap warga yang enggan disebutkan namanya. Jum'at, (21/9).

Terkait hal tersebut, pihak perusahaan menepis anggapan warga bila pihak perusahaan telah berlaku curang ,”Selama ini yang untuk warga kan yang kualitas 2, yaitu yang basah, ya kalau mau kuallitas 1, yang kering harus beli dong. Itu kan bukan limbah, ini kan produk samping dari perusahaan,” ungkap Anam salah satu Supervisor PT. Sorini

Diketahui onggok yang dapat diambil oleh warga ini merupakan salah satu bentuk kompensasi yang diberikan kepada warga sekitar atas berdirinya Perusahaan  tersebut. Tata cara pengambilan diatur melalui kesepakatan kedua belah pihak. Pada awal pendirian perusahan tersebut, onggok memang menjadi limbah, hingga pihak Perusahaan harus meminta ijin kepada warga yang bersedia tanahnya dijadikan tempat pembuangan onggok.


Namun saat onggok dapat di manfaatkan menjadi bahan baku yang bernilai tinggi, pihak Perusahaan memberikan batasan-batasan pada masyarakat yang hendak mengambil onggok.

”Dulu ampas ketela onggok ini dianggab limbah oleh PT mereka mau buang binggung sampai tanah warga di gunakan untuk membuangnya, setelah warga mampu memanfaatkan dan laku di jual, pihak PT mulai ada pembatasan, Aturanyapun sering ganti kalau ganti pemilik,” tegas Kades Tajug.(hantoro)     

Keterangan Gambbar : Onggok ketela yang jadi rebutan warga dan PT. Sorini

kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF

Berita "Daerah Kita" Lainnya